Pekan Asi Bersama Anmum
Seandainya bisa membalikan waktu
ke waktu sebelum Kinanti lahir, saya mungkin akan meminta waktu untuk lebih
banyak untuk belajar tentang menyusui. Jujur, sewaktu hamil saya tidak terlalu
pusing sama yang namanya urusan menyusui. Saya lebih banyak konsentrasi belajar
tentang bagaimana proses melahirkan, memandikan bayi, siap-siap barang-barang
newborn, senam hamil sampai full konsentrasi tentang kesehatan janin. Tapi,
ternyata..tantangan yang lebih bikin sangat emosional adalah perjalanan tentang
menyusui.
Sewaktu teman-teman dan keluarga
datang menjenguk saya setelah lahiran, mereka bilang “The real reality life
soal punya bayi, baru akan dimulai setelah pulang dari rumah sakit”. Ya iya,
emang bener banget! Gak ada bantuan suster dan tentunya say goodbye to sleep
and me time. Hahhaha. Terdengar horror banget? Bukan horror banget sih, tapi
tepatnya drama! Jadi, berhubung saya melahirkan secara caesar, memang proses
penyembuhannya yang take times. Belajar jalan, belajar duduk, belajar mandi,
dan ditambah harus belajar menyusui ketika badan saya sendiri masih loyo
banget. Awalnya saya masih santai ketika proses IMD, ada salah satu suster yang
bilang “bu..nipplenya datar ya…”. Saya pikir itu masalah kecil. Namun, ternyata
pas diwaktu berikutnya saya menyusui, saya melihat Kinanti cukup sulit untuk
pelekatan. Sampai akhirnya tiap mau menyusui selalu ada suster yang nemenin
saya. Kemudian, di hari kedua, payudara saya berasa bengkak dan sakit sekali,
ternyata saya baru tahu kalau ASI saya mulai berproduksi tapi gak dikeluarkan.
Baru deh disitu saya terbuka matanya, seandainya saya sebelum melahirkan ikutan
kelas laktaksi. Penting banget!
Ada yang bilang, anak perempuan
itu biasanya santai untuk urusan menyusui. Ternyata gak berlaku tuh buat
Kinanti, dia kuat banget nyusu-nya. Nah, selain urusan nipple datar, produksi
ASI pun susah untuk keluar. Segala macem jenis brand pompa ASI udah saya coba,
tapi gak ada yang berhasil. Sampai akhirnya saya diajari salah satu bidan di
RSIA Asih untuk menggunakan teknik perah dengan tangan saya sendiri. Bahagia
banget rasanya bisa ngeliat ASI bisa keluar dan ditampung.
Semua drama menyusui ini memang
jadi journey yang rollercoaster banget. Beruntungnya saya punya suami, Grandy
yang sangat support banget setiap saya lagi drama. Bahkan, Grandy juga banyak
sharing ke saya tentang pengetahuan seputar ASI yang rajin dia
browsing-browsing. Selain itu adanya
dukungan juga dari orangtua dan juga teman-teman terdekat yang akhirnya
menguatkan saya. Tapi yah…yang namanya ibu baru, selalu ada orang-orang yang
judgmental banget terhadap kita. “Kok anaknya udah dikasih botol?”, “Kok nangis
mulu sih anaknya! Susunya gak bagus ya?”. Rasanya pengen dipites banget ya
orang-orang itu hahaha.. (coba yang pernah diginiin angkat tangannya!!hahaha)
Cerita drama menyusui dengan ASI ini
memang gak cuma dialamin saya. Bahkan menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun
2017 mencatat ASI eksklusif di Indonesia hanya sekitar 35 persen, di bawah
rekomendasi WHO sebesar 50 persen. Di tengah
tantangan menyusui, menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
merekomendasikan dukungan kuat dari orang sekitar (support system) bagi ibu menyusui sebagai hal yang penting dalam suksesnya
ASI eksklusif.
Dalam pekan ASI sedunia yang diadakan dari tanggal 1-8 Agustus, saya
sempat menghadiri event Anmum #MumToMum . Pada moment ini, Anmum meluncurkan
digital platform Anmum Mum To Mum. Disini, bisa menjadi sarana buat ibu-ibu
saling berbagi pengalaman, bertanya,berdiskusi berbagai topik. Mulai dari topik
kehamilan sampai melahirkan. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, mempunyai
teman berbagi disaat menyusui itu bisa mengurangi drama emosional lho (ya ga?)
Kalau menurut, Ines Yumahana Gulardi, MSc., Senior Nutrition Manager, PT
Fonterra Brands Indonesia, “Ibu
membutuhkan dukungan emosional dan psikologis selama masa kehamilan karena
mereka perlu menyediakan nutrisi terbaik bagi bayi mereka di setiap tahap
kehidupan. Oleh karena itu, informasi yang diterima para ibu saat masa
perencanaan kehamilan, kehamilan, dan menyusui memiliki peran penting dalam
menentukan perkembangan bayi keseluruhan sejak berada dalam kandungan hingga
pertumbuhan masa kanak-kanak, yang di kemudian hari dapat mempengaruhi
kesehatan mereka saat mencapai dewasa.”
![]() |
Pijat Oksitosin, jadi salah satu cara untuk memperlancar ASI |
Selain dihadiri baik oleh Rohini Behl, Technical Marketing Advisor, PT Fonterra Brands Indonesia, dan
DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), dokter spesialis anak
konsultan di RSAB Harapan Kita, di event ini saya juga bertemu dengan Rinni
Wulandari. Terakhir bertemu dengannya, saat kita berdua masih belum menikah, sama-sama
belum punya anak, dan masih ngobrolin soal music pastinya hihi. Nah, ketika
Rinni, bercerita tentang journey menyusui Nord, dalam hati saya berkata “Kok
sama banget sih cerita kita!”. Sama-sama perah pake tangan, sama-sama drama
soal berat badan anak dan lainnya. Alhasil begitu ketemu saya langsung menyapa
“Rinniiiii!! Kok kita sama sihhhhhhhhhh!”
![]() |
Diambil dari camera HP dan blur hahaha |
Ya, saya sendiri sampai saat ini masih berjuang dalam proses menyusui. Tapi, sudah tidak se-stress waktu bulan-bulan awal. Karena tiap hari adalah proses pembelajaran buat saya sebagai ibu baru. Kalau mulai spaneng, tinggal ajak ngobrol Grandy, ktawa-ktawa bareng sama Kinanti, sharing sama teman-teman terdekat saya dan makan tentunya.
![]() |
Bareng Cacadong, salah satu sahabat saya yang juga jadi support system |
Selamat pekan ASI untuk ibu-ibu sekalian. Tetap
semangat berjuang. Silahkan klik ke www.anmum.co.id atau Facebook Anmum
Indonesia, untuk bergabung dengan ibu-ibu lainnya di platform digital Anmum
#MumToMum . Jangan pendam sendiri pertanyaan-pertanyaan yang bikin kamu bingung
sendirian, ada banyak ibu-ibu di luar sana yang punya cerita sama kaya kamu. Yuk
sharing dan saling mendukung!
3 comments: