Makan Mie Di Umur Yang Baru





Hari ini usia bertambah.

Seorang teman mengirimkan pesan “Hari ini makannya mie dong cha...biar panjang umur!”. Saya lalu menjawab “Wah..barusan makan gado-gado!”. Artinya apa ya kalau ulang tahun makan gado-gado? Biar rame dan bervariasi kali ya idupnya.haha

Tadinya, saya gak ada niatan untuk membuat tulisan di hari ulang tahun ini. Kemudian ditengah mencuci piring sambil merebus mie goreng instan (akhirnya makan mie juga..biar panjang umur, katanya.) Lalu muncullah beberapa buah pikiran dan sedikit flashback tentang apa saja yang udah dilewatin selama 34 tahun ini.



Kalau dipikir-pikir, saya sudah melewati berbagai macam perayaan ulang tahun sepanjang saya hidup. Mulai dirayain sama tetangga komplek sewaktu kecil, kemudian nraktir temen di restoran fast food sewaktu smp, lalu bawa makanan ke sekolah dan makan di kelas rame-rame yang kelarnya diceburin di kolam ikan.

Gak ketinggalan, perayaan ulang tahun di surprise in pun juga beberapa kali terjadi. Tetiba disamperin star crush dan diucapin langsung, gak tanggung-tanggung pake live di radio segala. Iya. Di datengin Dirly Idol disaat saya lagi sibuk ngurusin program radio Indolisten-Global Radio. Hahaha. (norak ya!)

Ada juga suprise yang sungguh wow yang dibuat sama Gracebaon sebagai EO nya. Dulu sewaktu jadi muda mudi pergaulan Jakarta (cieh) saya suka banget tu bikin bday wish list trus disebarin di facebook dan ngetag temen-temen. Nah..Kerennya surprise ini, Gracebaon berhasil banget ngumpulin semua temen-temen deket saya dan surprise in di tempat yang saya suka.

Lalu ada juga suprise birthday yang agak gagal namun tetap manis, jatuh pada pacar saya yang sekarang menjadi suami saya. Gak sengaja Tien salah ngomong di grup haha..Kemudian saya pura-pura gak tau, dan sengaja gak buka grup chat. Padahal kebaca dari notif. Tapi, gemesnya...niat juga nih Grandy dateng ke Jakarta di hari kerja untuk surpise in saya.

Trs..bagaimana dengan tahun ini?

Tahun ini santai aja ..just like an ordinary day. Gak kepikiran mau ini itu, mau makan apa, mau jalan kemana. Lebih pengen lay low. Ya kaya hari biasa aja. Menghabiskan my day barengan Kinanti, Grandy dan Mam.  Pergi ke supermarket, ngerjain playlist di rumah, mendongeng buat Kinanti dan end up nya menyantap mie goreng instan dengan bakwan jagung.

Tahun ini menjadi special karena ada Kinanti dan merayakan status saya menjadi  seorang Ibu.

Sudah 6 bulan menjadi ibu memang kehidupan saya berbeda sekali disaat menjadi seorang wanita dengan karir. Meskipun rindu banget buat kerja lagi (apa daya belum diterima-terima ahahaha) .Tapi saya tetap bersyukur, selain menjadi ibu rumah tangga tapi saya masih diberikan pekerjaan freelance. Nyusun playlist, menulis blog, dan tetep ikutan pitching VO (meski blum dapet-dapet hahaha)

Well. Tidak selamanya ulang tahun harus dirayakan dan harus dibuat surprisenya kan?hihi

Terkadang yang perayaan yang tenang juga bisa jadi moment untuk flashback, refleksi diri dan menikmati hari sambil menyapa teman-teman lama yang kontek untuk ngucapin selamat ulang tahun.(sambil menyantap mie yah..hihi)

Diumur yang baru, punya wish list apa cha?

Jawabannya “Wish list nya sudah saya sampaikan ke Tuhan Yesus hihi”


Kenali Gejala Dini Kanker Pada Anak






Menjadi ibu baru, terkadang membuat saya suka berpikir. Susah juga ya! (Ini diungkapkannya sambil tertawa renyah ya...bukan pake emosi marah hahaha). Kenapa saya bilang susah? Karena banyak yang harus saya pelajari dari nol, bahkan kalo dibuat jadi text book, rasanya akan menjadi halaman yang banyak sekali. Lebih tebel dari kamus pastinya.

Saya  jadi teringat, bulan-bulan awal saya menjaga Kinanti. Rasanya kalau denger dia nangis aja langsung bikin deg-degan. Takut terjadi sesuatu yang buruk . Pernah, ketika saya dan Grandy ke Bandung . Ada kali seminggu 3 kali, kami pergi ke rumah sakit , karena bingung Kinanti nangis terus dan kita merasa ia seperti kesakitan. Ternyata...ya kalo kata dokter “Bu..jarak nyusunya kedeketan, jadi begah dia”, “Bu..ini batuknya gak parah loh...ya udah di angetin aja yaa anaknya”, “Bu...mungkin karena kepanasan jadi dia nangis terus...gak kenapa-napa kok ni...sehat anaknya”. Kalau flashback lagi ke bulan-bulan awal itu, ya...saya was-was- an banget yah sebagai ibu. Hihi..  Yah mana tega saya ngeliat anak sakit.

Nah, minggu lalu, saya mendapatkan asupan ilmu dan pengetahuan lagi yang bisa saya masukan ke dalam “text book” saya sebagai orang tua.  Jadi, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia membuat seminar tentang “Kenali Gejala Dini Kanker Pada Anak”.  Jujur, saya sebelum ikut seminar ini, gak pernah kepikiran tentang kanker pada anak. Dan ternyata,  penyakit kanker jadi penyebab kematian kedua terbesar pada anak di rentang usia 5-14 tahun. Jadi, penting banget buat saya, sebagai ibu baru untuk tau soal ini. Yah..lagi-lagi untuk menambah wawasan supaya anak saya tetap terjaga dan sehat.



Menurut Dr. Mururul Aisyi Sp.A(K),dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Dharmais, ada 6 jenis kanker yang sering menyerang anak-anak. Kanker tersebut adalah leukimia, retinoblastoma, osteosarkoma, neuroblastoma, limfoma maligna, dan karsinoma nasofaring. Dari ke-enam jenis kanker itu, Leukimia merupakan kanker tertinggi yang menyerang pada anak.



Memang dari penjelasan dokter untuk mengenali gejala kanker pada anak bakalan jadi PR lebih sulit buat diketahui, karena anak masih sulit buat ngejelasin apa yang mereka rasain. Tapi balik lagi, peran penting disini adalah orang tua, sebagai pembimbing dan untuk menggali apa yang anak rasakan sebagai deteksi dini gejala kanker.

Dari info yang saya dapatkan kemarin, kita bisa tau gejala kanker pada anak seperti ini :

1. Leukimia, gejalanya bisa dilihat bila anak pucat, lemah, rewel, napsu makan menurun, demam tanpa sebab yang jelas, pembesaran hati, limpa dan kelenjar getah bening. Bahkan bisa  terjadi kejang sampai hilang kesadaran, pendarahan kulit atau pendarahan spontan, nyeri tulang dan anak lebih nyaman untuk digedong dibandingkan berdiri atau berjalan.

2. Retinablastoma, tumor ganas primer pada mata yang biasanya ditemui pada anak dibawah 5 tahun. Gejalanya, manik mata berwarna putih, mata berwarna seperti mata kucing, juling, kemerahan dan pembesaran bola mata sampai pengelihatan buram.

3. Osteosarkoma atau kanker tulang. Bisa ditandai dengan gejala nyeri tulang di malam hari atau setelah beraktivitas. Lalu pembengkakan, kemerahan, dan hangat di area nyeri tulang. Gerakan tulangpun terbatas, jadi cepat lelah dan juga penurunan berat badan.

4. Limfoma Maligna, keganasan primer jaringan getah bening yang sifatnya padat. Gejalanya pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak, pangkal paha , sesak napas, tersumbatnya saluran pencernaan, demam, keringat tengah malam sampai penurunan berat badan.

5. Karsinoma Nasofaring, tumor ganas pada daerah antara hidung dan tenggorokan. Gejala dini yang bisa diwaspadai adalah ingus bercampur darah, pilek, dan air ludah kental, hidung tersumbat, mimisan, tuli sebelah, telinga berdengung dan nyeri pada telinga.

6. Neuroblastoma, tumor embrional dari sistem saraf simpatis yang berasal dari cikal bakal jaringan saraf. Gejala awalnya pendarahan di sekitar mata dan mata menonjol, nyeri tulang, perut terasa penuh dan diare.

Dari seminar ini, Dr. Mururul juga bilang kalau sudah melihat gejala-gejala awal kanker pada anak, ada baiknya langsung diperiksakan ke rumah sakit. Jangan mencari jalan alternatif dulu. Apalagi langsung coba-coba tips yang biasa beredar di broadcast message grup chat.



Melalui seminar dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia ini, saya juga jadi belajar kalau jadi ibu harus menjadi sumber kekuatan utama demi anak. Seperti cerita dari Natarini Setianingsih, sebagai penyitas kanker Leukimia. Kisahnya inspiratif banget. Ia terdeteksi terkena kanker disaat baru duduk di bangku SMP. Gejala awalnya karena sering pusing dan lemas. Ibunya gak cuma sekali membawa ia ke dokter. Mulai dari dikira demam biasa, sampai dikira malaria, dan terakhir baru terdeteksi kanker. Natarini cerita, kalau sumber semangatnya untuk sembuh datang dari ibunya. Setiap mau kemo, mereka berdua naik bis dari Pandeglang jam 5 pagi untuk berobat di RSCM. Sampai akhirnya setelah 3 tahun rutin berobat, semangat dan usahanya untuk sembuh membuahkan hasil kalau pengobatannya bisa diberhentikan dan setelah 5 tahun kemudian dinyatakan telah sembuh.



Menjadi ibu, memang seru-seru mendebarkan yah..hehe

Untuk saya yang dulunya career person, begitu sekarang jadi stay-at-home-mom ternyata memang jauh beda banget kegiatannya. Ibaratnya dulu kerja cuma 8 jam, kalau sekarang siaga banget the whole day. Kalau kata Dr. Mururul  “Children are not little adult”, jadi kita sebagai orang tua yang harus paham perilaku anak kita.

Barengan sama ibu-ibu blogger hihi

Tetap semangat ya..buat ibu yang mungkin pas lagi baca blog saya ini lagi begadang untuk perah ASI, seharian belum mandi , atau bahkan baru menyeruput kopi yang tadi pagi dibuat tapi baru diminum sore hari karena sibuk seharian.

Yuk, sama-sama sekarang lebih awas lagi untuk jeli melihat gejala dini pada anak, supaya bisa secara cepat ditangani. Jangan sampai datang terlambat saat sudah masuk stadium lanjut.


Jangan lupa juga buat jaga kesehatan kita juga ya ibu J

Pekan Asi Bersama Anmum



  Seandainya bisa membalikan waktu ke waktu sebelum Kinanti lahir, saya mungkin akan meminta waktu untuk lebih banyak untuk belajar tentang menyusui. Jujur, sewaktu hamil saya tidak terlalu pusing sama yang namanya urusan menyusui. Saya lebih banyak konsentrasi belajar tentang bagaimana proses melahirkan, memandikan bayi, siap-siap barang-barang newborn, senam hamil sampai full konsentrasi tentang kesehatan janin. Tapi, ternyata..tantangan yang lebih bikin sangat emosional adalah perjalanan tentang menyusui.

  Sewaktu teman-teman dan keluarga datang menjenguk saya setelah lahiran, mereka bilang “The real reality life soal punya bayi, baru akan dimulai setelah pulang dari rumah sakit”. Ya iya, emang bener banget! Gak ada bantuan suster dan tentunya say goodbye to sleep and me time. Hahhaha. Terdengar horror banget? Bukan horror banget sih, tapi tepatnya drama! Jadi, berhubung saya melahirkan secara caesar, memang proses penyembuhannya yang take times. Belajar jalan, belajar duduk, belajar mandi, dan ditambah harus belajar menyusui ketika badan saya sendiri masih loyo banget. Awalnya saya masih santai ketika proses IMD, ada salah satu suster yang bilang “bu..nipplenya datar ya…”. Saya pikir itu masalah kecil. Namun, ternyata pas diwaktu berikutnya saya menyusui, saya melihat Kinanti cukup sulit untuk pelekatan. Sampai akhirnya tiap mau menyusui selalu ada suster yang nemenin saya. Kemudian, di hari kedua, payudara saya berasa bengkak dan sakit sekali, ternyata saya baru tahu kalau ASI saya mulai berproduksi tapi gak dikeluarkan. Baru deh disitu saya terbuka matanya, seandainya saya sebelum melahirkan ikutan kelas laktaksi. Penting banget!



  Ada yang bilang, anak perempuan itu biasanya santai untuk urusan menyusui. Ternyata gak berlaku tuh buat Kinanti, dia kuat banget nyusu-nya. Nah, selain urusan nipple datar, produksi ASI pun susah untuk keluar. Segala macem jenis brand pompa ASI udah saya coba, tapi gak ada yang berhasil. Sampai akhirnya saya diajari salah satu bidan di RSIA Asih untuk menggunakan teknik perah dengan tangan saya sendiri. Bahagia banget rasanya bisa ngeliat ASI bisa keluar dan ditampung.

  Semua drama menyusui ini memang jadi journey yang rollercoaster banget. Beruntungnya saya punya suami, Grandy yang sangat support banget setiap saya lagi drama. Bahkan, Grandy juga banyak sharing ke saya tentang pengetahuan seputar ASI yang rajin dia browsing-browsing.  Selain itu adanya dukungan juga dari orangtua dan juga teman-teman terdekat yang akhirnya menguatkan saya. Tapi yah…yang namanya ibu baru, selalu ada orang-orang yang judgmental banget terhadap kita. “Kok anaknya udah dikasih botol?”, “Kok nangis mulu sih anaknya! Susunya gak bagus ya?”. Rasanya pengen dipites banget ya orang-orang itu hahaha.. (coba yang pernah diginiin angkat tangannya!!hahaha)



  Cerita drama menyusui dengan ASI ini memang gak cuma dialamin saya. Bahkan menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2017 mencatat ASI eksklusif di Indonesia hanya sekitar 35 persen, di bawah rekomendasi WHO sebesar 50 persen. Di tengah tantangan menyusui, menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia merekomendasikan dukungan kuat dari orang sekitar (support system) bagi ibu menyusui sebagai hal yang penting dalam suksesnya ASI eksklusif.



  Dalam pekan ASI sedunia yang diadakan dari tanggal 1-8 Agustus, saya sempat menghadiri event Anmum #MumToMum . Pada moment ini, Anmum meluncurkan digital platform Anmum Mum To Mum. Disini, bisa menjadi sarana buat ibu-ibu saling berbagi pengalaman, bertanya,berdiskusi berbagai topik. Mulai dari topik kehamilan sampai melahirkan. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, mempunyai teman berbagi disaat menyusui itu bisa mengurangi drama emosional lho (ya ga?)



  Kalau menurut, Ines Yumahana Gulardi, MSc., Senior Nutrition Manager, PT Fonterra Brands Indonesia, “Ibu membutuhkan dukungan emosional dan psikologis selama masa kehamilan karena mereka perlu menyediakan nutrisi terbaik bagi bayi mereka di setiap tahap kehidupan. Oleh karena itu, informasi yang diterima para ibu saat masa perencanaan kehamilan, kehamilan, dan menyusui memiliki peran penting dalam menentukan perkembangan bayi keseluruhan sejak berada dalam kandungan hingga pertumbuhan masa kanak-kanak, yang di kemudian hari dapat mempengaruhi kesehatan mereka saat mencapai dewasa.”

Pijat Oksitosin, jadi salah satu cara untuk memperlancar ASI

  Selain dihadiri baik oleh Rohini Behl, Technical Marketing Advisor, PT Fonterra Brands Indonesia, dan DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan di RSAB Harapan Kita, di event ini saya juga bertemu dengan Rinni Wulandari. Terakhir bertemu dengannya, saat kita berdua masih belum menikah, sama-sama belum punya anak, dan masih ngobrolin soal music pastinya hihi. Nah, ketika Rinni, bercerita tentang journey menyusui Nord, dalam hati saya berkata “Kok sama banget sih cerita kita!”. Sama-sama perah pake tangan, sama-sama drama soal berat badan anak dan lainnya. Alhasil begitu ketemu saya langsung menyapa “Rinniiiii!! Kok kita sama sihhhhhhhhhh!”


Diambil dari camera HP dan blur hahaha

  Ya, saya sendiri sampai saat ini masih berjuang dalam proses menyusui. Tapi, sudah tidak se-stress waktu bulan-bulan awal. Karena tiap hari adalah proses pembelajaran buat saya sebagai ibu baru. Kalau mulai spaneng, tinggal ajak ngobrol Grandy, ktawa-ktawa bareng sama Kinanti, sharing sama teman-teman terdekat saya dan makan tentunya.

Bareng Cacadong, salah satu sahabat saya yang juga jadi support system

 Selamat pekan ASI untuk ibu-ibu sekalian. Tetap semangat berjuang. Silahkan klik ke www.anmum.co.id atau Facebook Anmum Indonesia, untuk bergabung dengan ibu-ibu lainnya di platform digital Anmum #MumToMum . Jangan pendam sendiri pertanyaan-pertanyaan yang bikin kamu bingung sendirian, ada banyak ibu-ibu di luar sana yang punya cerita sama kaya kamu. Yuk sharing dan saling mendukung!





Kisah Kinanti



Setelah hampir 4 bulan, akhirnya punya waktu untuk duduk dan kembali menulis. Kali ini akan bercerita tentang hadirnya Bing Kinanti Abigail di hidup saya dan Grandy, yang lahir pada tanggal 6 April 2016.

Kinanti hadir ke dunia ini melalui proses caesar setelah 40 minggu di tunggu-tunggu gak kunjung menunjukan tanda-tanda kontraksi dan pembukaan. Kinanti memang membuat kami menanti-nanti kehadirannya. Karena tepat seminggu saya menghabiskan waktu saya menginap di Rumah Sakit Ibu Anak Asih, Panglima Polim hanya untuk merayunya keluar supaya bisa segera bertemu dengan bapak dan ibunya. Waktu yang cukup lama kan….haha.

Saya masih ingat, check up terakhir saya itu di hari Senin, dari hasil USG dan CTG, Dokter Benny bilang ke saya dan Grandy kalau minggu ini sudah saatnya saya harus bersalin. Kalau bisa hari itu juga saya masuk ke RS untuk melakukan proses induksi melalui oral sebelum di induksi melalui infus. Tentu saja hal ini bikin saya dan Grandy jadi galau, karena gak ada kepastian juga kapan tepatnya Kinanti akan lahir. Bisa saja besok,bisa tiga hari lagi atau mungkin saja malam itu. Dengan catatan, pastinya harus ada kontraksi dan pembukaan. Masalahnya, sampai detik itu, saya belum ngerasa tuh yang namanya pembukaan, kontraksi atau pecah ketuban.Bener-bener bikin galau.

Singkat cerita, esokkan harinya saya check in di RSIA Asih untuk memulai proses induksi. Tapi, lagi-lagi setiap CTG gak ada tuh tanda-tanda kontraksi yang heboh. Malah saya asik aja nonton dan jalan-jalan keliling-keliling rumah sakit (sampe bosen banget! Hahah). Lalu pada hari ke tiga saya nginep di RS, hasilnya masih tetep sama. Gak ada pembukaan! Sampe-sampe suster dan bidan yang ngecek saya tiap hari juga gregetan gemes dan full support banget buat saya untuk bersabar dan tetap semangat. Kemudian di hari ke empat, setelah diskusi dengan Grandy, kita memutuskan untuk caesar aja deh. Daripada uang yang dikeluarin makin banyak karena kelamaan nginep dan sebagainya.

Ternyata, begitu kita mantap untuk caesar, Dokter Benny tetep semangatin saya kalau bisa tetap normal. Karena kondisi saya masih ok banget buat lahir normal. Meski air ketuban mulai berkurang. Tapi, akhirnya, diambil jalan tengah kalau malam itu saya harus mencoba induksi 1 botol infus untuk mencoba persalinan normal. Kalau sama sekali tidak ada pembukaan dan kontraksi, berarti esok paginya baru operasi. Well, ternyata Kinanti lebih memilih lewat “jalan tol” dibanding lahir secara normal, karena ketika di induksi infus masih aja tu saya bisa ketawa-ketawa dan jalan sana sini.




Keesokan harinya, ketika masuk ruang operasi, saya masih aja asik ngobrol dengan tim Dokter Benny. Ternyata, ada papanya teman saya yang juga menjadi bagian dari tim operasi. Semuanya jadi nyaman saja buat dijalani. Terlebih-lebih ketika di suntik tulang punggung ternyata saya gak ngerasa kesakitan. Fiuh! Padahal banyak yang bilang, itu part awal yang sakit ketika caesar. Tak berapa lama, yang dinanti-nanti, suara tangisan Kinanti terdengar dan Dokter Benny langsung mengajak Grandy untuk melihat anak perempuan kami.



Perasaan saya sungguh campur aduk ketika mencium pipi Kinanti untuk pertama kali dan menyapanya “akhirnya kita bertemu”. Puji Tuhan, Kinanti dilahirkan sehat. Pipinya yang kemerahan dan gembil membuat saya dan Grandy tersenyum tanpa henti melihatnya.


Bing Kinanti Abigail.

Nama Bing diambil dari tradisi papa mertua saya, yang diturunkan kepada anak-anaknya yang semuanya mempunyai nama depan “Bing”. Sama seperti Grandy yang nama depannya juga ada nama Bing.

Nama Kinanti sudah dipilih bahkan sebelum saya mengandung. Sebelum hamil saya selalu bilang sama Grandy, kalau punya anak perempuan, saya mau menamakannya Kinanti. Namanya terdengar klasik dan Indonesia banget. Nama ini juga biasa digunakan oleh orang Jawa Tengah dan Sunda, sesuai dengan keturunan keluarga saya. Untuk artinya sendiri juga sangat manis menurut kami. Arti pertama yaitu “Tembang atau puisi tentang cinta” dan arti kedua “yang dinanti-nanti”. Ya kehadiran Kinanti memang dinanti oleh kami semua.

Nama Abigail menjadi nama terakhir yang kami pilih di bulan-bulan terakhir menuju saya lahiran. Memang susah mencari nama belakang ini. Nama Abigail dipilih sama Grandy. Waktu itu dia whatsapp saya ditengah kemacetan menuju ke kantornya. Kata Grandy “Abigail aja gimana? Cocok, nyambung dan terdengar enak kalau dipadukan dengan nama depan dan tengahnya.” . Saya pun membalasnya “Nama Abigail salah satu rekomendasi juga tu dari mama kamu.” Artinya sendiripun juga bagus. Diambil dari Alkitab dan bercerita tentang seorang perempuan yang kuat dan selain itu juga berarti kebahagian dari seorang bapak.



Melalui nama Bing Kinanti Abigail, doa kami sebagai orang tua, berharap bila nanti Kinanti besar, ia bisa menjadi perempuan yang penuh cinta, kuat dan bisa memberikan kebahagiaan.

Well, inilah kisah lahiran Kinanti, masih banyak cerita seru lainnya tentang kehidupan kami sebagai bapak dan ibu. Nantikan #KisahKinanti lainnya yah…



Can't Wait to See You, My Baby



Semenjak hamil, beberapa teman terdekat ada yang suka bertanya “Kirim fotonya dong pas lagi hamil”, gak tanggung-tanggung bahkan ada juga teman saya yang menawarkan untuk bikin foto maternity. Tapi entah kenapa, disaat proses hamil ini saya lebih banyak jadi pemalu di social media. Jarang foto! Mungkin lebih tepatnya lebih pengen menikmati waktu-waktu ketika hamil dan tidak terlalu tampil kali ya. Lalu, baru nyadar ketika masuk ke trimester 3, masa gak punya dokumentasi lagi hamil sama sekali. Akhirnya, saya baru minta deh difotoin Grandy. hihi.. 


Kalau dipikir-pikir, kok hampir sama ya kaya yang dilakuin sama seorang Kylie Jenner yang gak pernah tampil dimasa hamilnya. Hahaha…yaaa memang kalau hamilnya Kylie Jenner kan emang bikin heboh ya dan apalah saya yang hanya ibu-ibu muda berdaster namun masih dengerin Rich Brian.

Tapi anyway, kalau baca pregnancy announcementnya Kylie Jenner bisa dibilang saya pengen ngajak Kylie buat tos karena setuju dengan pernyataannya (AKRAB! Hihi). Seperti penggalan paragraf ini yang ditulisnya “I knew for myself i needed to prepare for this role of a lifetime in the most positive, stress free, and healthy way i knew how. There was no gotcha moment, no big paid reveal i had planned. I knew my baby would feel every stress and every emotion so I chose to do it this way for my little life and our happiness” 




Semenjak hamil saya mulai agak jarang untuk nyaut-nyaut di WA Grup, untuk menghindar dari gibahan. Meski terkadang kalo ceritanya heboh, saya kepancing juga sih hahaha. Saya lebih seneng ngobrol personal dengan teman-teman terdekat. Sedangkan untuk social life keluar rumah, saya jadi lebih selektif untuk memilih kegiatannya. Paling keluar untuk ngajar di Kelas Penyiar, check up ke dokter, dan pergi sama Grandy untuk sekedar makan dan nonton. Sisanya, ya..di rumah. Ngulik lagu dan playlist (sambil kerja), menyulam, atau bahkan sekedar browsing internet. Emang beda banget sama saya yang dulu sebelum hamil. Bahkan keputusan besarnya adalah saya berhenti kerja kantoran dan memilih untuk lay low cari kerja yang bisa dikerjain di rumah.



Sekarang, menunggu saat-saat anak pertama saya lahir, kalau dipikir-pikir akan kangen juga masa-masa hamil ini. Waktu dimana lebih banyak relax, gak pusing dengan urusan jadwal meeting, gak pulang malam-malam dan exhausted, senengnya sih lebih banyak quality time bareng suami dan keluarga. Proses menuju melahirkan ini memang jadi waktu yang gak kerasa, tapi berasa lama begitu masuk di trimester 3. Jujur, kalau ditanya banyak orang “Pengen buru-buru melahirkan karena begah ya?”. Kalau saya sendiri sih bukan karena begahnya, tapi justru saya gak sabar pengen cepet-cepet ketemu anak saya ini dan bermain bersamanya.

Mencoba berenang saat hamil
Semakin mendekati waktu melahirkan, sayapun juga mencoba untuk banyak belajar pengetahuan baru menjadi seorang ibu. Gak ketinggalan juga belajar untuk menguatkan kuping dan hati mengingat ternyata nanti ada fase dimana sang ibu baru biasanya akan rame-rame dikeroyok seperti ditatar dengan orang-orang yang merasa lebih “Senior”dengan pengetahuannya sebagai ibu yang baik hahaha.  Saya sendiri pengennya gak mau ambil pusing. Setiap orang tua punya caranya sendiri untuk membesarkan anaknya. Pasti selalu akan ada orang tua lainnya yang bilang teknik kita salah, ada yang bilang kita sotoy, ada yang bilang anak kita begini begitu, well…mudah-mudahan saya sendiri nanti gak akan gitu sama orang lain. Belajar adalah bagian dari proses. Seperti biasa nanti akan mendewasakan kita kedepannya. Samalah seperti kita udah melewati fase-fase patah hati waktu SMA, makan hati sama bos kita, atau melewati fase ditanyain “kapan kawin?”. There’s always some people yang doyan ikut campur dan all I gotta do just let it go.



Meski terbilang saya seperti sembunyi dari social life akhir-akhir ini, tapi yang namanya support dari orang-orang terdekat gak ada habis-habisnya. Mudah-mudahan saya bisa melahirkan dan finish strong kaya tiap race lari yang saya ikuti selama ini ya hehe. Baik saya dan Grandy gak sabar bertemu dengan anak kami. Setiap hari kami berdoa, semoga ia terlahir sehat. Kami akan membesarkannya dengan bahagia dan cinta, serta menjadikannya anak perempuan yang kuat, charming dan siap menjalani petualangannya di bumi ini.
                                                                                                                                   
Can’t wait to see you Baby K!