Day 5 - Olahraga (Tingkat Mudah)

Mau olahraga tapi males?
Yang paling mudah sebenernya cuma jalan kaki.

2 hari lalu, saya terbangun dengan prasaan menghantui (bukan gentayangan ya hehe). Mau lari kok ya belum kumpul semangatnya. Kepikiran pasti nyesel kl ga olahraga hari itu.

Akhirnya cari-cari cara, ada ga yaa olahraga yang simple yang sementara buat gantiin lari. Pokonya harus olahraga dan bakar kalori. Kemudian saya cari-cari apps di Google Play, cari di kategori fitness. Setelah scroll bolak balik, ketemulah sama apps pedometer. Saya jadi inget, dulu waktu kuliah pernah di kasih alat ini sama bapak saya dan saya seneng banget menggunakan alat ini sampai akhirnya rusak.

Apps pedometer ini gunanya untuk menghitung berapa banyak langkah kaki kita selama satu hari. Dari jumlah langkah kaki, bisa dilihat berapa banyak kalori yang kita pangkas. Gampang banget kan olahraga sederhana ini? :)

Saya memang paling suka jalan kaki, teman kantor saya suka bingung kenapa saya suka jalan kaki dari kantor ke Lotte Avenue atau ke Mall Ambassador. Menurut mereka itu jauh untuk jalan kaki. Tapi menurut saya itu dekat. Hanya 2 km dan mengabiskan waktu sekitar 10 menit lewat jalan pintas.

First day menggunakan pedometer, saya sengaja milih rute berangkat yang lebih jauh dari biasanya. Dimana akan ada banyak tangga dan mengurangi penggunaan ojek. Berhubung apps ini sedikit sensitif, jadi saya harus bolak balik pause apps ini. Karena ketika duduk dan bergerak sedikit, akan terhitung langkah kaki. Sampai pada akhirnya, saya gagal dalam satu hari itu full memakai pedometer karena lupa dinyalain lagi start-nya dan juga pada malam harinya ketika pulang kantor saya harus  pulang naik motor, jadi tidak ada kesempatan buat jalan kaki.

Hari kedua, saya kembali gagal dan baru menyalakan pedometer malam hari ketika lagi jalan di mall. Tapi ternyata surprise-surprise dalam 38 menit berjalan kaki, sudah membakar 146 kcal dengan 4,018 steps. Ini masih terbilang dalam tahap gagal, karena masih dalam jumlah dikit hitungan stepsnya.

Tunangan saya bilang, kegagalan itu biasa..tapi membuat progress kecil itu bisa jadi proses buat jadi luar biasa, yang penting jangan sampai stagnan.

Sangat mudah ya exercise nya? Bayangin aja kalau kita jalan seharian di mall, udah berapa kcal yang kebakar. Tapi dengan catatan ya, ngemil di mall nya juga ga kebanyakan hehe.

Coba kita lihat kedepannya ya...progress jalan kaki bersama pedometer ini. :)

DAY 1

DAY 2

Day 4 - Goodbye

I know...it’s a bit late to write day 4...Sesuatu yang tidak di rencanakan terjadi hari ini, sehingga butuh waktu untuk membuka laptop dan menulis.

Hari ini, saya mendapat kabar duka.  Ayahnya sahabat saya meninggal dunia.

Ketika tahu kabar ini, saya dan teman-teman se-geng kaget dan segera menyusun rencana untuk pergi melayat. Rasa khawatir dan sedih memang terlintas. Mengingat, ayah Grace ini cukup dekat dengan kita. Saya masih ingat, ketika jaman kuliah dan malamnya pergi ke club, pasti destinasi menginapnya adalah rumah Grace. Lalu, pagi harinya kita pasti ketemu dengan Om Panky yang nama aslinya adalah Om Welly. Ya, nama Om Panky ini dibuat sama teman saya Anggy. Entah ada angin apa....Anggy memutuskan untuk memanggil nama beliau dengan nama itu
.
Selama 1 jam lebih menuju rumah duka dengan motor bersama Tia, saya sudah kebayang...nanti suasana bakalan sendu dan banyak tangisan. Karena yang saya tahu, memang beliau dekat dengan anak-anaknya. Tapi sampai disana, ternyata Grace meyambut tamu dengan senyum ikhlas, begitu juga dengan kakak dan ibunya. Baru kali ini saya lihat keluarga yang ditinggalkan bs tegar.

Sewaktu kami mampir di warteg depan rumah sakit, Grace bilang “Gw ga ada penyesalan ketika bokap gw pergi...karena gw sudah bersyukur buat waktu yang ada, gw bisa pake buat jagain dan ngerawat bokap selama ini”

Terkadang memang penyesalan datang belakangan, tapi tidak buat Grace. Dia sudah menguatkan diri dan berusaha memberikan yang terbaik untuk ayahnya . Grace tidak membuang-buang waktu berharganya dengan ayahnya.
Waktu memang berjalan cepat dan rencana bisa saja berganti, jangan sampai tidak sempat buat bilang sayang dengan orang yang kita cintai selama masih ada waktu.


Selamat jalan om Pangky

Day 3 - Coklat dan Mood


Hari pertama bekerja di tahun 2016 bisa dibilang LEMES. Entah karena kemarin tidur siang terlalu lama (5 jam), atau karena memang kejadian “Tebet” yang bikin mood drop hari ini.

Dari awal menyiapkan pernikahan, emang paling ketar-ketir sama urusan cetak undangan. Karena ngobrol sama temen-temen atau baca blog rata-rata banyak yang traumatis sama percetakan di Tebet.
Singkat cerita, memang tadi ada miskom antara saya, vendor undangan sama orang bagian mesin percetakan. Sudah bela-belain nge-Gojek buat ke Pasar Tebet di tengah jam kerja, eh...ternyata orang bagian mesin percetakan masih libur.

Memang terkadang apa yang sudah kita rencanakan baik-baik, bisa saja meleset karena faktor lainnya. Rasanya buyar semua rencana awal kita. Mau marah-marah pun juga percuma, selain bersabar dan berpikir jernih untuk cari jalan keluar.

Ya sudahlah, makan coklat saja buat menyenangkan hati.


Day 2 - Stasiun Kampung Bandan



Sabtu kemarin, saya pergi ke Mangga Dua bersama mama. Seperti biasa, kami memutuskan buat naik commuter line. Ya, hubungan saya dengan commuter line memang bergantung banget. Transportasi umum ini memang jadi favorite saya buat beraktivitas di Jakarta (selain ojek, Gojek, GrabBike, dan Uber). Naik commuter line emang menghemat waktu dan murah.

Biasanya, kalau pergi ke Mangga Dua, kami akan transit di Stasiun Kampung Bandan lalu pindah menggunakan commuter line jurusan Jakarta – Kota. Tapi, kemarin saya dan mama memutuskan buat coba jalur baru. Kami turun di Stasiun Kampung Bandan dan akan jalan kaki menuju ITC Mangga Dua.

Mama bilang “Nanti kita akan lewat jalan pintas, lewat perkampungan”. Saya pikir, setelah keluar dari stasiun baru kita akan motong jalan lewat perkampungan penduduk. Tapi ternyata, ya begitu keluar pintu stasiun ya langsung perkampungan penduduk.

Selama ini naik commuter line, baru kali ini nemu stasiun yang semraut dan kumuh. Selama  saya jalan kaki menuju jalan utama, jemuran baju jadi pemandangan yang menghiasi di sekitar stasiun. Belum lagi dapur di luar rumah yang dibangun seadanya dan ga ketinggalan wara wiri motor yang jalannya harus bergantian dengan pejalan kaki karena sempitnya jalan. Selain itu, banyak juga ibu-ibu yang duduk di depan rumah sempit mereka, untuk sekedar ngobrol, jual gorengan atau menyisir rambut anaknya yang baru habis mandi di mck umum.

Percayalah, bau di lingkungan tersebut benar-benar menusuk. Entah karena banyak barang bekas yang menumpuk atau kerena sirkulasi udara yang tidak baik.

Sepulang dari Mangga Dua, saya dan mama memutuskan untuk kembali naik commuter line dari Stasiun Kampung Bandan. Kali ini kami memutuskan buat naik bajaj. Tapi, berhubung jalan sangat sempit. Akhirnya kami turun di tengah gang dan melanjutkan dengan jalan kaki.

Sebelum bertemu dengan loket tiket, untuk menuju Stasiun Kampung Bandan, kami harus melewati terowongan. Gelap, tanpa lampu, lembab dan ada sekumpulan anak-anak bermain lompat tali disitu. Selama menunggu kereta, saya bilang sama mama  “Stasiun ini kayanya bener-bener butuh di rombak deh..ga kebayang kalau harus malam-malam naik kereta dari sini”

Dan benar, sepulang dari Stasiun Kampung Bandan, saya baca di internet, banyak orang yang memutuskan ga lewat stasiun ini jika sudah lewat jam 19.30. Mereka merasa khawatir dan merasa daerah ini rawan. Belum lagi, ternyata ketika musim hujan tiba,  Stasiun Kampung Bandan juga sering dilanda banjir.

Terkadang, memang suka gregetan sendiri kalau ngomongin transportasi umum di Jakarta. Kalau saya sendiri, hubungan saya dan transportasi umum itu seperti love and hate. Ada saatnya kesel banget, tapi ada saatnya transportasi umum membantu saya buat keliling Jakarta.


Akan ada banyak cerita tentang transporasi umum di blog ini.  Termasuk macam-macam jenis penumpang commuter line. Soon, akan saya coba ceritakan ya hehe.

ps: saya ga ambil banyak foto-foto di saat melewati perkampungannya, masih memantau, maybe next time :)





Day 1 - #366CharissaProject


Suatu siang menjelang penutup akhir tahun, saya terlibat dalam sebuah obrolan ringan dengan tunangan saya tentang suatu hal yang simple, tidak muluk-muluk, mengenai goal yang masing-masing dari kita akan capai di tahun 2016. Memang, di tahun 2016 ini akan jadi tahun yang penting untuk kita berdua. Ya, kami akan menikah.

Selain, akan mengikat janji sehidup semati, kita berdua memang sering berdiskusi tentang idealnya menikmati hidup. Di mulai jangan membuang satu hari dengan percuma. Ibaratnya, harus ada 1 pelajaran baru tiap harinya. Tidak melulu soal kesuksesan tapi bisa juga tentang kegagalan, yang nantinya bisa di perbaiki di esok hari.

Bermula dengan cita-cita menikmati setiap hari yang berkualitas, akhirnya kita memutuskan masing-masing akan melakukan hal yang kita suka, namun harus konsisten selama setahun. Tujuannya sih supaya kita bisa menantang diri kita masing-masing untuk berkreasi, punya wawasan baru, mengasah kemampuan kita dan mudah-mudahan mencapai kepuasan pada akhirnya.
Grandy, tunangan saya, memilih untuk membuat lettering projects selama 366 hari yang akan di post di Instagramnya @grandyalv. Sedangkan saya, akan berusaha menulis di blog setiap harinya tentang apapun.

Kenapa blog? Selama ini memang saya sudah punya blog, tapi gak pernah konsisten di tulis. Bahkan dibanding menulis, saya lebih memilih baca blog orang lain, kemudian bilang dalam hati “pengen deh bisa nulis kaya dia, pasti bisa”. Cuma, end up nya, ya ga nulis lagi.

Mudah-mudahan dengan tulisan atau foto-foto pada blog saya, bisa menghibur, memberikan informasi, atau sekedar dibaca sambil menikmati hari.


Meski telat 1 hari dari hari pertama di tahun 2016, Saya akan memulai langkah kecil untuk menulis (lagi) dan menikmati setiap petualangan  #366Charissaproject .