Day 13 - (Mencoba) Makan Sehat


Dari Selasa, saya kembali lagi ke dapur. Setelah bulan Desember  kemarin, saya malas sekali masak dan banyak banget jajan akibat hecticnya pekerjaan di kantor.

Beberapa bulan terakhir, saya memang mulai meluangkan waktu untuk mencoba belajar masak. Kenapa masak ? Alasan pertamanya gara-gara mulai bosen sama makanan di kantor, trus ternyata dengan masak sendiri juga lumayan ngirit, dan sekalian itung-itung latian masak hehe.

Semakin lama coba masak-masak, akhirnya mulai memutuskan masak makanan yang lebih sehat. Termasuk buat memilih cemilan. Khususnya buat cemilan, baru mulai minggu ini nih cari-cari makanan cemilan yang sehat-sehat. Emang yang paling berat buat nyemil sehat itu, ketika mulai ada chips atau martabak yang tiba-tiba muncul di depan muka haha..

For main food, saya lebih suka masak pasta. Bahkan teman sekantor saya sampe bosen karena liat saya makan pasta mulu hahaha...abis gimana, emang doyan. Toppingnya aja yang suka di ganti-ganti, kadang tuna, kadang chicken, kadang sayur-sayuran aja. Selain itu, juga udah mulai ga pakai garam dan ganti minyaknya dengan olive oil.

Kedepannya, saya memang pgn masak makan-makanan sehat tapi yang ga mahal. Karena seperti yang kita tahu, sekarang banyak banget orang jualan makanan sehat tapi harganyaaaa luar biasa mahalnya.

Kalau saya masak kuncinya yang penting ada : olive oil, bawang putih, oregano, dan rosemary. Meski gak pake garem tapi tetep tasty karena bumbu-bumbu itu.
Sedangkan untuk weekend, saya tetap kasih kesempatan untuk diri saya menikmati makanan apapun. Asal ketika Senin, kembali lagi masak sehat.


Well, it’s not a diet. It’s called eating healthy. J






Day 12 - Dear Jakarta



Pagi itu saya masih asik menyusun playlist di kantor. Sesekali melihat handphone untuk cek pesan yang masuk, termasuk pesan yang kemudian masuk di group lari saya. Teman saya menulis “guys ada suicide bomb ya di starbucks sarinah?”. Saat itu, saya masih ga percaya...tapi langsung oper pesan itu ke teman-teman kantor. Dalam hitungan detik, teman-teman yang berbeda ruangan langsung menghambur dari ruangan dan langsung menyerbu ke ruang TV.

Rasanya memang hampir ga percaya, Jakarta kembali di teror.  Memang beberapa bulan lalu saya sempat membaca kalo ada kelompok-kelompok teroris yang di tangkap. Jadi sempet kepikiran, apa ini salah satu aksi mereka?

Ketika mulai menyaksikan beberapa tayangan di tv,emang berasa lemes sambil bertanya-tanya ini ada apaan sih? Bolak balik saya kontek dengan papa dan mama saya untuk memastikan mereka berada di tempat yang aman.

Dengan segala yang terjadi di Jakarta kemarin , memang ada perasaan khawatir. Jakarta yang biasa saya taklukan dengan segala kemacetannya, asap dari mobil, keramaian motor yang gak ada habisnya, mendadak jadi Jakarta yang sepi dan semua dalam keadaan waspada serta saling menolong.

No matter seberapa sering kita mengutuk Jakarta, kemarin melalui pesan berantai kami diajak untuk berani dan kuat untuk melawan terorisme ini. Jakarta adalah rumah kita. Jangan di taklukan dengan mereka yang hanya ingin membuat kita terpecah. Meski kita tinggal di Bekasi, Bogor, Tanggerang, Depok atau daerah lainnya, tapi hampir setiap hari kita menghabiskan waktu kita untuk hidup di Jakarta.


Kami tidak takut.

Day 11 - Dilarang Foto Di Stasiun




Tadi pagi saya membranikan diri saya untuk explore foto di stasiun Tanah Abang. Ada ketakutan saya untuk hunting foto di stasiun Tanah Abang karena harus mengeluarkan DSLR saya itu dari tas. Saya takut ada yang berbuat jahat karena saya bawa kamera. (baca: kecopetan).

Begitu saya turun dari commuter line Serpong, saya siap dengan DSLR saya lalu mulai foto-foto keramaian di stasiun. Begitu nyebrang ke rel berikutnya, saya ambil foto-foto lagi . Tapi kali ini ada seorang petugas yang menegur saya “mba..ga boleh foto-foto di stasiun..”. Saya spontan kaget dan nanya “kenapa?”. Bapak ini hanya jawab “Ada peraturannya gak boleh, kalau mau foto harus lapor ke bagian stasiun”. Saya masih bengong dengerin pernyataan bapak petugas.

Kemudian saya balas lagi “Masa si pak?saya baru tau ada peraturan ini!”. Nada bicara saya udah agak emosi, tapi berusaha gak spaneng sih..hehe. Kemudian saya dengar bapak petugas lainnya bilang “Soalnya mba pake kamera digital!”. Saya kemudian jawab lagi “Ini bukan buat komersil kok, ya udah kalo emang ternyata ga boleh...sekali lagi saya baru tahu peraturan ini. Oh iya, saya pers mas!” . Sambil saya tunjukan kartu pers saya dan kedua petugas itu kemudian cuma senyam senyum.

Setelah kejadian itu, saya nge-path dan nanya komentar teman-teman saya. Saya takut ternyata saya ga ke update soal peraturan itu. Tapi sambil wondering juga ya..kok dilarang foto di tempat umum. Saya paham kalo harus minta izin ketika akan dokumentasi untuk kegiatan komersil, event, dan lainnya. Cuma, kenapa hanya mau mengabadikan momen tapi harus lapor ke bagian stasiun. Lantas kalau ternyata bagian stasiunnya gak ada, jadi saya gak boleh foto gitu ya? Bagaimana kalau ternyata saya itu adalah turis yang jauh-jauh dari luar kota atau luar negri yang pengen foto-foto ?

Sesampainya di kantor, saya langsung browsing tentang dilarangnya foto di stasiun. Banyak ternyata komen-komen tajam dari masyarakat soal masalah ini. Ternyata tahun 2015 kemaren sempet ada yang marah-marah di Twitter karena dilarang foto di stasiun dan petugas minta fotonya itu di hapus dari handphonenya. Tuh kan, praturannya ga jelas. Saya dilarang karena pakai kamera DSLR, orang tersebut juga dilarang karena pake handphone. Kemudian  saya browsing lebih detail lagi, ada orang yang bilang mungkin pengelola kereta api takut ketika di foto, ternyata tampilannya jelek alias servis tidak baik.

Simpang siur soal peraturan dilarang foto di stasiun ini emang semakin dibaca semakin emosi.  Padahal kalau dipikir-pikir, kamera DSLR saya itu model lama, gak bisa video, dan hanya pakai lensa fix. Kayanya ada kamera handphone yang lebih canggih dan bagus deh daripada DSLR saya.



Seorang teman yang juga punya pekerjaan sebagai fotografer kemudian nyeletuk di path saya “Ajakin petugasnya selfie bareng aja!”  hahaha, saya jadi ingat. Kejadian foto bareng petugas udah pernah saya coba dan memang berhasil.

Ceritanya, saya dan teman-teman mau bikin foto kenang-kenangan sebelum lulus. Kami berlima memutuskan untuk foto-foto di taman Monas. Berhubung gak ada yang fotoin, jadi kita memutuskan pakai tripod. Ternyata, kita disamperin petugas dan dilarang foto-foto di taman monas. Ada peraturannya . (lagi-lagiiiiii peraturan antah berantah). Mungkin anggapan petugas, kalau foto pake tripod, berarti itu foto serius. Padahaaaall kamera saya waktu itu masih nikon coolpix!

Akhirnya saya gunakan trik ngobrol, saya bilang kalau kita ini anak-anak kampus. Ya masa mau bikin iklan komersil. Setelah itu, saya ajak mereka buat foto. Saya bilang aja skalian tes camera. (dulu jaman 2007 belum ada kata ‘selfie’). Dan mereka mau aja. Lalu setelah itu, kita bebas foto di area Monas. Ajaib kaan?

Jadi, next time kalau dilarang lagi foto di tempat umum. Mungkin saya akan ajak ‘wefie’ atau ‘selfie’ aja kali ya?


Duh!


Day 10 - Olahraga (Tingkat Lumayan Mudah)



Pagi ini di kereta, saya mengintip layar handphone penumpang commuter line yang berdiri di samping saya. Saya ngeliat dia lagi sibuk scrolling halaman Facebooknya dengan judul post “ Saya langsing berkat produk Sl**mer hanya dengan meminumnya”. Saya liat raut muka ibunya, kayanya semangat banget baca page Facebook itu. Gak lama, dia share page tersebut ke wall Facebook pribadinya. (mata saya tajem banget ya bisa kepo kaya gitu hahaha)

Saya jadi mikir, tadi pagi saya habis lari kemudian lanjut full intensity cardio. Rasanya luar biasa capeknya. Kok ya ga sebanding sama post Facebook yang dibaca sama ibu tadi ya. Tinggal minum, langsung kurus.

Tapi, balik lagi ke diri masing-masing sih. Kalau saya termasuk orang yang percaya sama proses daripada cara instan. Memang untuk memulai pagi dengan bangun lebih subuh, lalu lari dan lanjut lagi latihan cardio itu butuh semangat dan niat luar biasa. Gak berhenti disitu saja, setelah itu saya harus memasak sendiri healthy food  untuk bekal makan siang.

Sampai saat ini, gak kepikiran buat beli produk minuman pelangsing kaya gitu. Cara instan mungkin cepat efeknya, tapi…bisa juga cepat hilang efeknya.  (ya gak si?haha)

Buat yang mau olahraga setiap harinya, kalau ngerasa lari membutuhkan waktu terlalu banyak. Coba deh download applikasi Sworkit! Cukup dengan 5 menit sehari, untuk membakar kalori di pagi hari. Lumayan kan? :)


Yuk ah! Workout lebih rajin lagi.

Day 9 - Belajar Lebih Teratur



Setelah punya komitmen untuk menulis blog selama 366 hari, emang ada beberapa hal yang harus disesuaikan. Termasuk salah satunya adalah mengatur schedule tentang tema apa yang mau ditulis.

Kemarin, yang cukup bikin stuck buat nulis karena selalu menunggu ide dateng. Jadi, beberapa kali saya terbangun sampai jam 1 atau ½ 2 pagi hanya untuk menulis. Kebiasaan yang kaya gini, lama-lama saya rasa akan membuat saya jadi benar-benar berhenti untuk menulis. Karena selalu punya alasan untuk bilang “menulis itu susah”.

Saya rasa ada saatnya kita menjemput ide untuk dateng, bukan hanya menunggu ide dateng. Dengan seperti itu, kita akan berusaha untuk mengasah diri untuk terus explore bukan hanya diam.


Akhirnya, weekend kemarin saya memutuskan untuk membeli weekly schedule yang nantinya mencatat apa saya yang harus saya tulis. Mudah-mudahan cara ini bisa work out. Tidak ada salahnya untuk mencoba kan? hehe